Selasa, 28 Oktober 2014

KECERDASAN EMOSI, STRES KERJA DAN KINERJA KARYAWAN



      1.      Latar belakang, masalah dan tujuan penelitian
a.       Latar belakang
Sumber daya manusia merupakan aset paling penting dalam suatu organisasi karena merupakan sumber daya yang mengarahkan organisasi serta mempertahankan dan mengembangkan organisasi dalam berbagai tuntutan masyarakat dan zaman. Oleh karena itu, sumber daya manusia harus selalu diperhatikan, dijaga, dan dikembangkan.
Tuntutan akan kinerja karyawan yang tinggi memang sudah menjadi bagian dari semua perusahaan. Namun fakta yang ada sekarang memperlihatkan bahwa belum semua karyawan memiliki kinerja yang tinggi sesuai dengan harapan perusahaan. Masih banyak terdapat kar-yawan yang memiliki kinerja yang rendah. Berdasarkan peringkat indeks kinerja yang telah dilakukan World Investment Report (WIR) tahun 2003, indeks kinerja Indonesia menempati urutan ke 138 dari 140 negara. Peringkat ini dengan memperhatikan indikator ting-kat kehadiran, kualitas pekerjaan (profesionalisme dalam bekerja), dan kuantitas pekerjaan karyawan Indonesia yang masih tergolong rendah.

Masalah stres kerja di dalam orga-nisasi menjadi gejala yang penting di-amati sejak mulai timbulnya tuntutan untuk efisien di dalam pekerjaan. Setiap tenaga kerja bekerja sesuai dengan perannya dalam organisasi, artinya setiap tenaga kerja mempunyai kelompok tugas-nya yang harus dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang ada dan sesuai dengan yang diharapkan oleh atasannya. Namun demikian tenaga kerja tidak selalu ber-hasil untuk memainkan perannya tanpa menimbulkan masalah. Kurang baik ber-fungsinya peran, yang merupakan pem-bangkit stress yaitu meliputi konflik peran dan ketaksaan peran (role ambi-guity).
b.      Masalah dan tujuan penelitian
Dalam jurnal ini penulis akan membahas suatu perumusan masalah yaitu : “Apakah ada hubungan antara kecerdasan emosional dan stres kerja dengan kinerja karyawan?”
Dan penulis juga memiliki tujuan penelitian yang dilakukan adalah: untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dan stres kerja dengan kinerja karyawan.

2.        Metode Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah karyawan PT. BRI Cabang Kebumen dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu non random sampling, yaitu dengan pengambilan sampel atau pemilihan sekelompok subyek berdasar-kan karakteristik yang sudah ditentukan sebelumnya. Adapun ciri-ciri subjek yaitu (1) subyek berusia minimal 22 tahun, (2) tingkat pendidikan minimal SMU, dan (3) mempunyai masa kerja minimal 1 tahun. Pengumpulan data menggunakan tiga macam skala, yaitu (1) Skala Kecerdasan Emosi, (2) Skala Stres kerja, dan (3) Skala Penilaian kinerja. Adapun teknik atau metode analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis yaitu analisis regresi dua prediktor.

3.        Hasil dan pembahasan
Berdasarkan hasil perhitungan uji hipotesis diperoleh nilai koefisien kore-lasi R = 0.580, Fregresi = 11.909, p < .01. Hasil ini menunjukkan ada hubungan yang sangat signifikan antara kecerdasan emosi dan stres kerja dengan kinerja. Oleh karena itu, variabel kecerdasan emosi dan stres kerja dapat digunakan sebagai prediktor (variabel bebas) untuk memprediksikan kinerja. Hasil analisis rx1y = 0.527, p < .01, berarti ada hubungan positif yang sangat signifikan antara kecerdasan emosi dengan kinerja. Semakin tinggi kecer-dasan emosi maka semakin tinggi kinerja karyawan.

    
Kecerdasan emosi menentukan potensi individu untuk mempelajari keterampilan praktis yang didasarkan pada lima unsur yaitu kesadaran diri, motivasi, pengaturan diri, empati, dan kecakapan dalam membina hubungan dengan orang lain. Kecakapan emosi adalah kecakapan hasil belajar yang didasarkan pada kecer-dasan emosi dan karena itu menghasilkan kinerja menonjol dalam pekerjaan. Inti kecakapan ini adalah dua kemampuan yaitu empati, yang melibatkan kemam-puan membaca perasaan orang lain; dan ketrampilan sosial, yang berarti mampu mengelola perasaan orang lain dengan baik. Kecerdasan emosional bekerja seca-ra sinergi dengan keterampilan kognitif, orang yang berprestasi tinggi memiliki keduanya. Tanpa adanya kecerdasan emosional maka orang tidak akan mampu menggunakan keterampilan kognitif mereka sesuai dengan potensinya yang maksimal.
Stres merupakan suatu keadaan di-mana seseorang mengalami ketegangan karena adanya kondisi-kondisi yang mempengaruhi dirinya. Kondisi-kondisi tersebut dapat ditimbulkan dari dalam diri individu maupun dari lingkungan di luar diri individu. Di dalam organisasi kerja, individu selalu berinteraksi dengan lingkungannya, tetapi interaksi tersebut tidak selalu menguntungkan. Interaksi yang pas akan menghasilkan performansi tinggi, kepu-asan dan tingkat stres yang rendah, sebaliknya ketidakharmonisan interaksi menyebabkan performansi kerja yang buruk, ketidakpuasan dan tingkat stres yang tinggi.

4.        Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya dapat ditarik kesimpulan yaitu (1) terdapat hubungan yang sangat signifikan antara kecerdasan emosi dan stres kerja dengan kinerja, (2) terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara kecerdasan emosi dengan kinerja di mana semakin tinggi kecerdasan emosi maka semakin tinggi kinerja karyawan, dan (3) terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara stres kerja dengan kinerja di mana semakin tinggi stres kerja maka semakin rendah kinerja karyawan.

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Kartasuraa 57102, Jawa Tengah
Jurnal Psikologi Volume 2, No. 1, Desember 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar